
BREBES, – brdnusantara.news.blog – Kisah sukses H. Muhadi Setiabudi menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan finansial bukanlah penghalang menuju puncak prestasi. Pria asal Brebes ini merintis usaha dari nol, bahkan pernah menjual perhiasan istri untuk modal, hingga akhirnya membangun imperium bisnis yang luas dan diakui secara nasional oleh Presiden Soeharto di Istana Negara.
Titik Nol dan Pengorbanan Sang Istri
Perjalanan Muhadi dimulai tanpa dukungan finansial maupun relasi dari kalangan berpengaruh. Ia mengandalkan insting bisnis dan kerja keras yang luar biasa. Salah satu momen krusial dalam hidupnya adalah ketika ia harus merelakan perhiasan istrinya dijual demi mendapatkan modal usaha.
“Uang hasil jual gelang dan kalung itu akhirnya sudah kembali. Saya bilang ke istri, ‘Dek, beli kalung lagi ya buat simpanan.’ Dulu, istri saya itu juragan becak. Begitu ada uang, saya belikan kalung lagi sebagai bentuk syukur karena sudah bisa melunasi,” kenang Muhadi penuh haru.
Sebelum merintis usaha sendiri, Muhadi pernah menjadi kondektur bus antar kota pada tahun 1979, dari mana ia belajar pentingnya kesinambungan dalam berusaha. Setelah itu, ia memutuskan untuk membuka usaha dagang bambu dengan modal awal yang sangat terbatas, bahkan pernah menggunakan motor Vespa pinjaman dari kakaknya untuk mengangkut material.
Perjuangan dan Keberhasilan yang Mencolok
Keuletan Muhadi membuahkan hasil manis. Pertumbuhan usahanya yang pesat sempat memicu desas-desus di tengah masyarakat, bahkan ada yang menyatakan ia menggunakan cara mistis seperti “pesugihan” untuk mencapai kesuksesan. Namun, hal tersebut tidak memiliki dasar yang jelas dan lebih merupakan mitos yang muncul akibat kecepatan perkembangannya yang luar biasa.
– Usia muda: Ia menjadi sosok yang dianggap paling kaya di desanya dengan kepemilikan tambak, sawah, hingga lima unit mobil, hal yang dianggap kemewahan di era tersebut.
– Usia 28 tahun: Dominasi bisnisnya meluas hingga dikenal sebagai orang terkaya se-Kecamatan Bulakamba.
– Tahun 1992: Pada usia 30 tahun, Muhadi resmi dinobatkan sebagai salah satu pengusaha tersukses di Kabupaten Brebes dan terpilih sebagai Pemuda Pelopor Tingkat Nasional. Ia juga menerima penghargaan Upakarti pada tahun 1994 dan apresiasi dari sebuah institut manajemen di Amerika Serikat.
Puncak Prestasi: Tangis di Hadapan Presiden Soeharto
Keberhasilan Muhadi tidak hanya terletak pada kekayaan materi, tetapi juga dedikasinya dalam memberdayakan ekonomi lokal. Momen yang paling membekas adalah saat ia menginjakkan kaki di Istana Negara untuk menerima penghargaan langsung dari Presiden Soeharto.
“Saya menangis di Istana Negara. Saya tidak menyangka, anak desa yang memulai semuanya sendiri secara otodidak, bisa diundang ke Istana di zaman Orde Baru. Itu momen yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup,” tutupnya.
Kini, setelah empat setengah dekade berkarya, Muhadi mengelola sekitar 80 badan usaha yang tersebar di Jawa Barat dan Jawa Tengah, dengan lebih dari 5.400 karyawan yang bekerja di berbagai sektor seperti rumah sakit, perguruan tinggi (Universitas Muhadi Setiabudi), perusahaan otobus (PO Dedy Jaya), pusat perbelanjaan, dan properti.
Discover more from Selamat Datang brdnusantara.news.blog
Subscribe to get the latest posts sent to your email.







